Tuesday, May 29, 2012

3 langkah untuk menjadi manusia terbaik

Ada hadits pendek namun sarat makna dikutip Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir. Bunyinya, “Khairun naasi anfa’uhum linnaas.” Terjemahan bebasnya: sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.

Derajat hadits ini ini menurut Imam Suyuthi tergolong hadits hasan. Syeikh Nasiruddin Al-Bani dalam bukunya Shahihul Jami’ush Shagir sependapat dengan penilaian Suyuthi.

Adalah aksioma bahwa manusia itu makhluk sosial. Tak ada yang bisa membantah. Tidak ada satu orangpun yang bisa hidup sendiri. Semua saling berketergantungan. Saling membutuhkan.

Karena saling membutuhkan, pola hubungan seseorang dengan orang lain adalah untuk saling mengambil manfaat. Ada yang memberi jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa mendapat imbalan dan penerima jasa mendapat manfaat. Itulah pola hubungan yang lazim. Adil.

Jika ada orang yang mengambil terlalu banyak manfaat dari orang lain dengan pengorbanan yang amat minim, naluri kita akan mengatakan itu tidak adil. Orang itu telah berlaku curang. Dan kita akan mengatakan seseorang berbuat jahat ketika mengambil banyak manfaat untuk dirinya sendiri dengan cara yang curang dan melanggar hak orang lain.

Begitulah hati sanubari kita, selalu menginginkan pola hubungan yang saling ridho dalam mengambil manfaat dari satu sama lain. Jiwa kita akan senang dengan orang yang mengambil manfaat bagi dirinya dengan cara yang baik. Kita anggap seburuk-buruk manusia orang yang mengambil manfaat banyak dari diri kita dengan cara yang salah. Apakah itu menipu, mencuri, dan mengambil paksa, bahkan dengan kekerasan.

Namun yang luar biasa adalah orang lebih banyak memberi dari mengambil manfaat dalam berhubungan dengan orang lain. Orang yang seperti ini kita sebut orang yang terbaik di antara kita. Dermawan. Ikhlas. Tanpa pamrih. Tidak punya vested interes.

Orang yang selalu menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain adalah sebaik-baik manusia. Kenapa Rasulullah saw. menyebut seperti itu? Setidaknya ada empat alasan. Pertama, karena ia dicintai Allah swt. Rasulullah saw. pernah bersabda yang bunyinya kurang lebih, orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Siapakah yang lebih baik dari orang yang dicintai Allah?

Alasan kedua, karena ia melakukan amal yang terbaik. Kaidah usul fiqih menyebutkan bahwa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri. Apalagi jika spektrumnya lebih luas lagi. Amal itu bisa menyebabkan orang seluruh negeri merasakan manfaatnya. Karena itu tak heran jika para sahabat ketika ingin melakukan suatu kebaikan bertanya kepada Rasulullah, amal apa yang paling afdhol untuk dikerjakan. Ketika musim kemarau dan masyarakat kesulitan air, Rasulullah berkata membuat sumur adalah amal yang paling utama. Saat seseorang ingin berjihad sementara ia punya ibu yang sudah sepuh dan tidak ada yang merawat, Rasulullah menyebut berbakti kepada si ibu adalah amal yang paling utama bagi orang itu.

Ketiga, karena ia melakukan kebaikan yang sangat besar pahalanya. Berbuat sesuatu untuk orang lain besar pahalanya. Bahkan Rasulullah saw. berkata, “Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada I;tikaf sebulan di masjidku ini.” (Thabrani). Subhanallah.

Keempat, memberi manfaat kepada orang lain tanpa pamrih, mengundang kesaksian dan pujian orang yang beriman. Allah swt. mengikuti persangkaan hambanya. Ketika orang menilai diri kita adalah orang yang baik, maka Allah swt. menggolongkan kita ke dalam golongan hambanya yang baik-baik.

Pernah suatu ketika lewat orang membawa jenazah untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut orang itu sebagai orang yang tidak baik. Kemudian lewat lagi orang-orang membawa jenazah lain untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut kebaikan si mayit. Rasulullah saw. membenarkan. Seperti itu jugalah Allah swt. Karena itu di surat At-Taubah ayat 105, Allah swt. menyuruh Rasulullah saw. untuk memerintahkan kita, orang beriman, untuk beramal sebaik-baiknya amal agar Allah, Rasul, dan orang beriman menilai amal-amal kita. Di hari akhir, Rasul dan orang-orang beriman akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita seperti yang mereka saksikan di dunia.

Untuk bisa menjadi orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain, kita perlu menyiapkan beberapa hal dalam diri kita. Pertama, tingkatkan derajat keimanan kita kepada Allah swt. Sebab, amal tanpa pamrih adalah amal yang hanya mengharap ridho kepada Allah. Kita tidak meminta balasan dari manusia, cukup dari Allah swt. saja balasannya. Ketika iman kita tipis terkikis, tak mungkin kita akan bisa beramal ikhlas Lillahi Ta’ala.

Ketika iman kita memuncak kepada Allah swt., segala amal untuk memberi manfaat bagi orang lain menjadi ringan dilakukan. Bilal bin Rabah bukanlah orang kaya. Ia hidup miskin. Namun kepadanya, Rasulullah saw. memerintahkan untuk bersedekah. Sebab, sedekah tidak membuat rezeki berkurang. Begitu kata Rasulullah saw. Bilal mengimani janji Rasulullah saw. itu. Ia tidak ragu untuk bersedekah dengan apa yang dimiliki dalam keadaan sesulit apapun.

Kedua, untuk bisa memberi manfaat yang banyak kepada orang lain tanpa pamrih, kita harus mengikis habis sifat egois dan rasa serakah terhadap materi dari diri kita. Allah swt. memberi contoh kaum Anshor. Lihat surat Al-Hasyr ayat 9. Merekalah sebaik-baik manusia. Memberikan semua yang mereka butuhkan untuk saudara mereka kaum Muhajirin. Bahkan, ketika kaum Muhajirin telah mapan secara financial, tidak terbetik di hati mereka untuk meminta kembali apa yang pernah mereka beri.

Yang ketiga, tanamkan dalam diri kita logika bahwa sisa harta yang ada pada diri kita adalah yang telah diberikan kepada orang lain. Bukan yang ada dalam genggaman kita. Logika ini diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada kita. Suatu ketika Rasulullah saw. menyembelih kambing. Beliau memerintahkan seoran sahabat untuk menyedekahkan daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Rasulullah saw. bertanya, berapa yang tersisa. Sahabat itu menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Rasulullah saw. mengoreksi jawaban sahabat itu. Yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah dibagikan.

Begitulah. Yang tersisa adalah yang telah dibagikan. Itulah milik kita yang hakiki karena kekal menjadi tabungan kita di akhirat. Sementara, daging paha yang belum dibagikan hanya akan menjadi sampah jika busuk tidak sempat kita manfaatkan, atau menjadi kotoran ketika kita makan. Begitulah harta kita. Jika kita tidak memanfaatkannya untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya. Harta itu akan habis lapuk karena waktu, hilang karena kematian kita, dan selalu menjadi intaian ahli waris kita. Maka tak heran jika dalam sejarah kita melihat bahwa para sahabat dan salafussaleh enteng saja menginfakkan uang yang mereka miliki. Sampai sampai tidak terpikirkan untuk menyisakan barang sedirham pun untuk diri mereka sendiri.

Keempat, kita akan mudah memberi manfaat tanpa pamrih kepada orang lain jika dibenak kita ada pemahaman bahwa sebagaimana kita memperlakukan seperti itu jugalah kita akan diperlakukan. Jika kita memuliakan tamu, maka seperti itu jugalah yang akan kita dapat ketika bertamu. Ketika kita pelit ke tetangga, maka sikap seperti itu jugalah yang kita dari tetangga kita.

Kelima, untuk bisa memberi, tentu Anda harus memiliki sesuatu untuk diberi. Kumpulkan bekal apapun bentuknya, apakah itu finansial, pikiran, tenaga, waktu, dan perhatian. Jika kita punya air, kita bisa memberi minum orang yang harus. Jika punya ilmu, kita bisa mengajarkan orang yang tidak tahu. Ketika kita sehat, kita bisa membantu beban seorang nenek yang menjinjing tak besar. Luangkan waktu untuk bersosialisasi, dengan begitu kita bisa hadir untuk orang-orang di sekitar kita.

8 Penyakit tidak baik yang lahir dari Perasaan Sakit Hati

1-Sentiasa berbicara perkara tidak baik dan mencela orang lain.
2-Bergembira apabila melihat seterunya ditimpa bala atau ujian Allah SWT.
3-Tidak bertegur dengan seterunya.
4-Berpaling dari seterunya dan menghina seteru.
5-Mengumpat dan mengata kepada seterunya serta membuka rahsia seterunya tanpa keizinan syarak.
6-Menceritakan kisah seteru dan menghina seterunya.
7-Memalukan dan menyakiti seterunya.
8-Menegah dan menghalang orang lain daripada membayar hutang kepada seterunya.

✿ Indahnya Pahala Menahan Marah..✿

Siapa yang menahan marah, padahal ia boleh melepaskan kemarahannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya." (HR. Abu Dawud - At-Tirmidzi)

Sesungguhnya menahan diri dari marah adalah sifat muttakin dan balasannya di sisi Allah adalah balasan orang-orang yang bertakwa. Dan Allah memberi jaminan kepada orang yang berjaya menahan kemarahan ini dengan memberi keutamaan di hari akhirat untuk memiki syurga yang dia mahu, berdasarkan dalil hadis:

‘Sesiapa yang dapat menahan dari kemarahan dan ia berjaya menghilangkannya di hari kiamat kelak Allah memberi keutamaan dari sekalian makhluk sehingga ia memilih mana-mana pintu syurga yang ia mahu’. (HR.Al-Bukhari)

Adakalanya, Rasulullah S.A.W. juga marah. Namun, marahnya tidak melampaui batas kemuliaan. Itu pun ia lakukan bukan karena masalah pribadi melainkan karena kehormatan agama Allah. Rasulullah S.A.W. bersabda, "Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa),dan memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam)." (HR.Bukhari)
Sabdanya pula, "Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor." (HR. At-Tirmidzi)

Dari pengajaran hadis ini sama samalah kita bersabar dan memberi kemaafan kepada orang lain kerana kemaafan itu lebih tinggi martabatnya dari menahan kemarahan. Namun demikian orang yang berjaya menahan diri dari marah ini sudah tentu ada padanya sifat pemaaf dan ihsan pada orang lain. Jiwa orang yang berjaya menahan marah juga sunyi dari sifat dendam, iri hati, dengki dan talam dua muka. Sifat-sifat buruk inilah yang menyebabkan seseorang itu tidak berjaya di akhirat, walaupun semasa hayatnya merupakan orang yang soleh dan taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.

Maka dengan ini sama-samalah kita berdoa agar dijauhi sifat-sifat sedemikian, dengan doanya:

‘Ya Allah! Jadikanlah kami dari golongan orang-orang yang dapat menahan kemarahan mereka, dan jadikanlah kami orang orang yang suka memberi kemaafan dan perdamaian. Kategorikanlah kami bersama orang-orang yang beramal dengan mengikut apa yang diperintah oleh Allah, mengikuti penghulu segala nabi-nabi dan rasul-rasul iaitulah penghulu kami Muhammad S.A.W
Ya Allah! terimakanlah doa kami.’Aamiin..






Friday, May 18, 2012

AJAIBNYA TANGAN IBU

Tika kita lapar...tangan ibu yang menyuap,
Ketika kita haus...tangan ibu yang memberi minuman,
Ketika kita menangis...tangan ibu yang mengesat air mata,
Ketika kita gembira...tangan ibu yang menadah Syukur,
memeluk kita erat dengan deraian air mata bahagia,

Ketika kita dilanda masalah...tangan ibu yang membelai..
Ketika kita mandi...tangan ibu yang meratakan air ke seluruh badan,membersihkan segala kekotoran,
Ketika kita mengantuk...tangan ibu yang dodoikan
dengan penuh kasih sayang,

Namun,
Ketika ibu sudah tua & kelaparan...
tiada tangan dari anak yang menyuap,
Dengan tangan yang menggeletar,
ibu suap sendiri makanan ke mulut dengan linangan air mata,
Ketika ibu sakit...di mana tangan anak yang
ibu harapkan dapat merawat kesakitan ibu?

Ketika nyawa ibu terpisah dari jasad...
Ketika jenazah ibu nak dimandikan...
di mana tangan anak yang ibu harapkan
untuk menyirami jenazah ibu buat kali yang terakhir.

Tangan ibu, tangan ajaib...
Sentuhan ibu, sentuhan kasih...
Boleh membawa ke Syurga Firdausi...
Ciumlah tangan ibu,
Sebelum ibu pergi bertemu Illahi & takkan kembali lagi..
Hargailah dan sayangilah mereka selagi masih berkesempatan


Wednesday, May 16, 2012

Mengapa Doa Tidak Dimakbul

Selalunya Allah SWT akan mengabulkan setiap doa melalui saluran yang diizinkan syarak. Tetapi jika pemberian itu tidak sampai ke tangan kita atau kita tidak menerimanya, maka itu bukanlah salah Allah SWT. Mungkin ada kesilapan dan kesalahan yang kita lakukan. Di antara kemungkinan itu ialah:
  • Ada kalanya kita sudah terlalu jauh dengan Allah SWT.
  • Ada dinding yang membataskan kita dengan Allah SWT seperti dosa yang sudah bertimbun-timbun sehingga Allah SWT berasa tidak patut lagi kita menerima pemberian-Nya yang bernilai tinggi dan suci itu.
  • Kita selalu berdoa tetapi perbuatan maksiat tidak kita tinggalkan dan kita suka mengambil sesuatu melalui jalan yang haram.
  • Boleh jadi kerana salah kita melanggar syaratnya atau kerana salah satu sebab yang kita tahu atau sedar.
Ibrahim Adham, seorang ahli sufi yang sangat masyhur pernah ditanya oleh orang ramai ketika beliau berada di tengah pasar Basrah, mengapa doa kami tidak dimakbulkan Allah pada hal kami selalu berdoa. Ibrahim Adham menjawab: “Kerana hati kamu buta (mati) disebabkan sepuluh perkara, iaitu”:
  1. Kamu mengenal Allah tetapi kamu tidak menunaikan hak-Nya.
  2. Kamu sangka kamu cintakan Rasulullah tetapi kamu tinggalkan sunnahnya.
  3. Kamu membaca al-Quran tetapi kamu tidak beramal dengannya.
  4. Kamu makan nikmat Allah tetapi kamu tidak bersyukur kepada-Nya.
  5. Kamu mengaku syaitan itu musuh kamu tetapi kamu tidak menentangnya.
  6. Kamu mengaku syurga itu benar tetapi kamu tidak beramal untuknya.
  7. Kamu mengaku neraka itu benar tetapi kamu tidak lari daripadanya.
  8. Kamu mengaku mati itu benar tetapi kamu tidak bersedia untuknya.
  9. Kamu bangun dari tidur lalu kamu ceritakan segala keaiban manusia tetapi kamu lupakan keaiban kamu sendiri.
  10. Kamu kebumikan mayat saudara-saudara kamu tetapi kamu tidak mengambil iktibar daripadanya.
Daripada sepuluh sebab yang membutakan hati itu tersimpul satu sifat bahawa kebanyakan kita tidak menjunjung tugas sebagai hamba yang sebenar bagi Allah. Sebab itu wajar sekali kita tidak mendapat keistimewaan yang melimpah ruah – setiap panggilan tak mungkin disahut dan setiap permintaan tak mungkin dikabulkan Allah.
Bey Ariffin dalam bukunya Samudra Al-Fatihah antara lain mengatakan; doa seseorang itu tidak akan dimakbulkan Allah walaupun ia merendah diri serendah-rendahnya (khusyu’ dan tawadhu’) sewaktu berdoa, serta memuliakan Allah dengan semulia-mulianya, tetapi apabila sebelum berdoa atau sesudahnya dia mengerjakan pekerjaan yang sangat dilarang dan dimurkai Allah.
Di sinilah letaknya rahsia mengapa Allah tidak mengabulkan doa sebahagian besar dari manusia yang berdoa dan di sinilah pula letaknya kenapa Allah selalu mengabulkan doa Rasul dan nabi, para sahabat dan tabi’iin, para wali dan orang soleh lainnya.
Untuk membolehkan doa itu dimakbulkan Allah s.w.t maka ia hendaklah dilakukan dengan sebaik-baiknya dan dengan memelihara adab- adab berdoa. Di antara adab-adab berdoa ialah:
  • Doa hendaklah dilakukan dalam waktu yang baik dan mulia seperti pada hari Arafah, ketika Ramadhan, Jumaat, sepertiga yang akhir dari malam dan pada waktu sahur.
  • Berdoa dalam keadaan yang mulia seperti ketika sujud dalam sembahyang, ketika berhadapan dengan musuh dalam pertempuran, ketika hujan turun, sebelum menunaikan sembahyang dan sesudahnya, ketika jiwa sedang tenang dan bersih daripada gangguan syaitan dan ketika menghadap Kaabah.
  • Berdoa dengan menghadap kiblat.
  • Berdoa dengan merendahkan suara antara terdengar dan tidak oleh orang yang berada di sisi kita.
  • Berdoa dengan tidak menggunakan kata-kata yang bersajak. Memadai dengan kata-kata biasa dan sederhana, sopan dan tepat dengan apa yang dihajati dan tidak perlu dilagukan dan amat baik dipilih lafaz-lafaz doa Rasulullah s.a.w yang bersesuaian.
  • Berdoa dalam keadaan khusyu’ dan tawadhu’ dengan merasakan kebesaran dan kehebatan Allah dalam jiwa.
  • Mengukuhkan kepercayaan bahawa doa itu akan dimakbulkan Allah dan tidak sedikitpun berasa gelisah jika tidak diperkenankan Allah s.w.t.
  • Mengulangkan doa yang diutamakan dua hingga tiga kali.
  • Memuji Allah di permulaan dan pengakhiran doa.
  • Bertaubat sebelum berdoa dan menghadapkan diri dengan sesungguhnya kepada Allah s.w.t.

Kelebihan orang yang banyak berdoa

DARIPADA Anas bin Malik, katanya: Rasulullah SAW bersabda: “Sesiapa yang memohon syurga kepada Allah sebanyak tiga kali, syurga berkata: Ya Allah, masukkanlah dia ke dalam syurga. Dan sesiapa yang meminta perlindungan daripada neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata: Ya Allah, selamatkanlah dia daripada neraka.”
Hadis ini sungguh besar kedudukan dan tahapnya, ia menunjukkan limpah kurnia Allah yang besar dan rahmat-Nya yang begitu luas.
Orang yang memohon syurga dan meminta perlindungan daripada neraka ditetapkan syarat iaitu Islam serta benar dalam menghadapkan diri kepada Allah (at-tawajjuh).
Demikianlah, bahawa kejayaan dengan syurga dan keselamatan daripada neraka adalah tujuan yang hendak dicapai orang yang mengerjakan solat, berzakat, berpuasa, menunaikan haji, berzikir mengingati Allah dan berjihad.
Untuk mencapai ke tahap itu mereka terpaksa memejam pandangan, memelihara kemaluan dan perutnya, menjaga lidah serta menahan tangannya daripada melakukan perkara terlarang. Perkara ini berterusan menjadi adat kebiasaan sehingga Allah mengampuni mereka.
Daripada Abu Hurairah, katanya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang sentiasa berkeliaran di jalan mencari ahli zikir, apabila mereka mendapati satu kaum yang berzikir mengingati Allah mereka memanggil temannya lalu mereka pun datang mengelilingi orang yang berzikir dengan membentangkan sayapnya ke langit dunia. Lalu mereka ditanya oleh Tuhannya, sedangkan Tuhan lebih mengetahui dari mereka: Apa yang diucapkan hamba-Ku? Mereka menjawab: Hamba-Mu menyucikan, membesarkan, memuji dan mengagungkan-Mu.
Allah bertanya: Adakah mereka melihat Ku? Malaikat menjawab: Tidak, Demi Allah wahai Tuhan, mereka tidak melihat Mu. Allah bertanya: Bagaimana jika mereka melihat Ku? Malaikat menjawab: Jika mereka melihat Mu nescaya mereka lebih banyak beribadah kepada Mu, mengagungkan Mu, dan bertasbih memuji Mu.
Allah bertanya: Apakah yang mereka minta kepada-Ku? Malaikat menjawab: Mereka meminta syurga kepada Mu. Allah bertanya: Adakah mereka telah melihat syurga itu? Malaikat menjawab: Tidak, Demi Allah wahai Tuhanku, mereka tidak pernah melihatnya. Allah bertanya: Bagaimana jika mereka melihat syurga itu? Malaikat menjawab: Sekiranya mereka melihatnya nescaya mereka lebih tamak lagi terhadapnya, lebih kuat memintanya, dan keinginannya lebih besar padanya.
Allah bertanya: Dari apakah mereka berlindung? Malaikat menjawab: Mereka berlindung dari neraka. Allah bertanya: Adakah mereka telah melihat neraka itu? Malaikat menjawab: Tidak, demi Allah mereka belum pernah melihatnya. Allah bertanya: Bagaimana jika mereka melihatnya? Malaikat menjawab: Sekiranya mereka melihatnya nescaya mereka pasti lebih menjauhkan diri daripadanya, dan pasti lebih takut dengannya.
Allah bertanya: Aku menyaksikan kepada Kamu bahawa Aku telah mengampuni mereka. Ada malaikat berkata: Di kalangan mereka ada si fulan yang bukan dari golongan mereka, namun kedatangannya untuk sesuatu hajat keperluan. Allah berfirman: Mereka adalah kaum yang tidak celaka sesiapa yang duduk dalam majlisnya.”
Mengapa kita tidak memohon syurga kepada Allah, sedangkan Ibnu Abbas meriwayatkan daripada Nabi SAW sabdanya: “Allah menciptakan syurga dan menjuntaikan padanya buah-buahannya, dan mengalirkan padanya sungai-sungainya, kemudian memandang kepadanya lalu berfirman: Bercakaplah, lalu diapun berkata: Sungguh berjaya orang yang beriman. Lalu Allah berfirman: Demi keagungan Ku, engkau tidak akan dimasuki orang yang bakhil kedekut.”
Mengapa kita tidak meminta kepada Allah supaya dimasukkan ke dalam syurga, sedangkan Rasulullah SAW pernah ditanya mengenainya, lalu baginda bersabda: “Sesiapa yang masuk syurga akan hidup di dalamnya tidak akan mati, dikurniakan nikmat padanya tidak pernah terputus, tidak lusuh pakaiannya dan tidak hilang keremajaannya.

11 jenis manusia didoa malaikat

PERCAYA kepada malaikat adalah antara rukun iman. Ada malaikat yang ditugaskan berdoa kepada makhluk manusia dan sudah tentu seseorang yang didoakan malaikat mendapat keistimewaan.
Dalam hidup, kita sangat memerlukan bantuan rohani dalam menghadapi ujian yang kian mencabar. Bantuan dan sokongan malaikat sangat diperlukan.
Kali ini penulis ingin menyenaraikan antara jenis manusia yang akan menerima doa malaikat.
Ketika kita menghadapi masalah, kerumitan, keperluan dan bimbingan, bukan saja kita perlukan kekuatan doa dari lidah, tetapi juga sokongan malaikat.
Antara orang yang mendapat doa malaikat ialah:
  1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Sesiapa yang tidur dalam keadaan suci, malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa: “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu si fulan kerana tidur dalam keadaan suci.”
  2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu solat.Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya: “Tidaklah salah seorang antara kalian yang duduk menunggu solat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali kalangan malaikat akan mendoakannya: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.’”
  3. Orang yang berada di saf depan solat berjemaah.Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Sesungguhnya Allah dan kalangan malaikat-Nya berselawat ke atas (orang) yang berada pada saf depan.”
  4. 4. Orang yang menyambung saf pada solat berjemaah (tidak membiarkan kekosongan di dalam saf).Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Sesungguhnya Allah dan kalangan malaikat selalu berselawat kepada orang yang menyambung saf.”
  5. Kalangan malaikat mengucapkan ‘amin’ ketika seorang imam selesai membaca al-Fatihah.Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya: “Jika seorang imam membaca…(ayat terakhir al-Fatihah sehingga selesai), ucapkanlah oleh kamu ‘aamiin’ kerana sesiapa yang ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, dia akan diampuni dosanya yang lalu.”
  6. Orang yang duduk di tempat solatnya selepas melakukan solat.Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Kalangan malaikat akan selalu berselawat kepada satu antara kalian selama ia ada di dalam tempat solat, di mana ia melakukan solat.”
  7. Orang yang melakukan solat Subuh dan Asar secara berjemaah.Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya: “Kalangan malaikat berkumpul pada saat solat Subuh lalu malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga Subuh) naik (ke langit) dan malaikat pada siang hari tetap tinggal.”Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu solat Asar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga solat Asar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal lalu Allah bertanya kepada mereka: “Bagaimana kalian meninggalkan hamba-Ku?”Mereka menjawab: ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan solat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan solat, ampunilah mereka pada hari kiamat.’”
  8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa pengetahuan orang yang didoakan.Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Doa seorang Muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa pengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, malaikat itu berkata ‘aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’”
  9. Orang yang membelanjakan harta (infak).Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Tidak satu hari pun di mana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali dua malaikat turun kepadanya, satu antara kedua-duanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak…’”
  10. Orang yang sedang makan sahur.Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya: “Sesungguhnya Allah dan kalangan malaikat-Nya berselawat kepada orang yang sedang makan sahur.”
  11. Orang yang sedang menjenguk (melawat) orang sakit.Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70,000 malaikat untuknya yang akan berselawat kepadanya di waktu siang hingga petang dan di waktu malam hingga Subuh.”Itulah antara mereka yang mendapat doa malaikat. Semoga kita termasuk dan tersenarai sama.

Doa Berlindung dari Sifat Buruk & Hutang

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah aku berlindung dari kesusahan dan kedukaan, dari lemah kemahuan dan rasa malas, dari sifat pengecut dan bakhil, dari banyak hutang dan kezaliman manusia.”

Penyakit Demam Menghapuskan Dosa

Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:


مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ


“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)


Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku pernah menjenguk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah. Maka aku berkata:


إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قُلْتُ إِنَّ ذَاكَ بِأَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ قَالَ أَجَلْ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى إِلَّا حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ


“Sepertinya anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat, oleh karena itukah anda mendapatkan pahala dua kali lipat.” Beliau menjawab, “Benar, tidaklah seorang muslim yang terkena gangguan melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana gugurnya daun-daun di pepohonan.” (HR. Al-Bukhari no. 5647 dan Muslim no. 2571)


Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang berkunjung ke rumah Ummu Sa`ib atau Ummu Musayyab, maka beliau bertanya:


مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ أَوْ يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ تُزَفْزِفِينَ قَالَتْ الْحُمَّى لَا بَارَكَ اللَّهُ فِيهَا فَقَالَ لَا تَسُبِّي الْحُمَّى فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ


“Ada apa denganmua wahai Ummu Sa`ib -atau Ummu Musayyab- sampai menggigil begitu?” Dia menjawab, “Demam! Semoga Allah tidak memberkahinya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kamu mencela penyakit demam, karena dia dapat menghilangkan kesalahan (dosa-dosa) anak Adam, seperti halnya kir (alat peniup atau penyala api) membersihkan karat-karat besi.” (HR. Muslim no. 4575)
Penjelasan ringkas:


Di antara bentuk kesabaran terhadap takdir Allah yang menyakitkan adalah bersabar atas semua penyakit yang menimpa. Dan sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa kesabaran hukumnya adalah wajib dan bukan sunnah. Karenanya barangsiapa yang tidak bersabar menghadapi penyakit yang menimpanya maka sungguh dia telah terjatuh ke dalam dosa yang sangat besar.


Bagaimana caranya seseorang bisa bersabar?


Banyak faktor yang bisa membantu dan memudahkan seseorang untuk bersabar. Di antaranya adalah dengan mengetahui keutamaan orang yang terkena musibah termasuk sakit. ‘Tidak kenal maka tak sayang’, karenanya siapa yang tidak mengenal hakikat dari musibah dan penyakit niscaya dia tidak akan senang untuk sakit, dan sebaliknya siapa yang mengetahui hakikat dari semua musibah dan penyakit niscaya dia bukan hanya akan bersabar tapi justru dia akan bersyukur karena telah tertimpa musibah dan penyakit.


Trus, apa keutamaan orang yang tertimpa musibah dan penyakit?


Sebagiannya sudah disebutkan dalam hadits-hadits di atas yaitu dosa-dosanya akan diampuni selama dia terkena musibah dan penyakit. Dan banyak lagi yang lain bisa dibaca dalam kitab Riyadh Ash-Shalihin karya Imam An-Nawawi pada bab-bab pertama tentang keutamaan sabar.


Karenanya, semakin lama seseorang sakit atau semakin sering seseorang tertimpa musibah maka dosa-dosa yang terhapus akan lebih banyak. Kalau begitu, bukankah orang yang terkena musibah dan penyakit sangat pantas untuk bersyukur kepada Allah.


Karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiah menyebutkan 4 tingkatan manusia dalam menghadapi musibah, mulai dari yang terendah sampai ke yang tertinggi:


1. Marah dan tidak bersabar. Baginya dosa yang besar.

2. Sabar. Dia telah selamat dari dosa dan mendapatkan pahala karena kesabarannya

3. Ridha terhadap musibah yang menimpa. Dia mendapatkan pahala tambahan yang jauh lebih besar daripada pahala kesabaran.

4. Syukur. Inilah jenjang tertinggi dalam menghadapi musibah.


Apakah terhapusnya dosa dipersyaratkan sabar?

Ada silang pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Hanya saja yang lebih tepat insya Allah: Bahwa terhapusnya dosa itu sudah terjadi hanya dengan seseorang tertimpa musibah atau penyakit, baik dia bersabar menghadapinya maupun tidak. Hal itu karena dalil-dalil di atas bersifat umum bahwa Allah akan mengampuni dosa hanya dengan seseorang terkena musibah, tanpa menyinggung apakah dia bersabar atau tidak.

Yang jelas orang yang tertimpa musibah dan penyakit akan terhapus dosa-dosanya. Jika dia bersabar maka dia mendapatkan tambahan pahala, tapi jika dia tidak bersabar maka dia telah berbuat dosa yang besar.


Sumber : http://al-atsariyyah.com/akhlak-dan-adab/penyakit-demam-menghapuskan-dosa.html/comment-page-1#comment-3285

Doa Agar Mendapat Peluang Rezeki Yang Banyak... :)


Doa Penerang Hati

Ya Allah, lapangkanlah bagiku dadaku, dan mudahkanlah bagiku urusanku, dan bukalah simpulan dari lidahku, supaya mereka faham ucapanku

Aminnn ♥

Tuesday, May 8, 2012

Bilik-bilik di Syurga

Rasulullah S.A.W  pernah bersabda bahawa di dalam syurga itu terbahagi dalam kamar-kamar. Dindingnya tembus pandang dengan hiasan di dalamnya yang sangat menyenangkan. Di dalamnya pula terdapat pemandangan yang tidak pernah dilihat di dunia dan terdapat satu hiburan yang tidak pernah dirasakan manusia di dunia. "Untuk siapa kamar-kamar itu wahai Rasulullah S.A.W.?" tanya para sahabat. "Untuk orang yang mengucapkan dan menyemarakkan salam, untuk mereka yang memberikan makan kepada yang memerlukan, dan untuk mereka yang membiasakan puasa serta solat di waktu malam saat manusia lelap dalam mimpinya." "Siapa yang bertemu temannya lalu memberi salam, dengan begitu ia bererti telah menyemarakkan salam. Mereka yang memberi makan kepada ahli dan keluarganya sampai berkecukupan, dengan begitu bererti termasuk orang-orang yang membiasakan selalu berpuasa. Mereka yang solat Isya' dan Subuh secara berjemaah, dengan begitu bererti termasuk orang yang solat malam di saat orang-orang sedang tidur lelap." Begitu Rasulullah S.A.W. menjelaskan sabdanya kepada sahabatnya.

Rahsia Surah Al-Kautsar

Surah ini paling pendek, hanya mengandungi 3 ayat dan diturunkan di Makkah dan bermaksud sungai di syurga. Kolam sungai ini diperbuat daripada batu permata nan indah dan cantik.

Surah ini disifatkan sebagai surah penghibur hati Nabi Muhammad s.a.w. kerana diturunkan ketika baginda (SAW) bersedih atas kematian 2 orang yang dikasihi iaitu anak lelakinya Ibrahim dan bapa saudaranya Abu Talib.

Pelbagai khasiat terkandung di dalam surah ini dan boleh kita amalkan:-

1) Baca surah ini ketika hujan dan berdoa, mudah-mudahan Allah s.w.t. makbulkan doa kita.

2) Jika kita kehausan dan tiada air, bacalah surah ini dan gosok di leher, Insya’allah hilang dahaga.

3) Jika sering sakit mata, seperti berair, gatal, bengkak, sapukan air mawar yang sudah dibacakan surah ini sebanyak 10x pada mata.

4) Jika rumah dipercayai terkena sihir, baca surah ini 10x, mudah-mudahan Allah s.w.t. bagi ilham pada kita dimana letaknya sihir itu.

5) Jika membacanya 1,000x rezeki kita akan bertambah.

6) Jika rajin membacanya, hati kita akan menjadi lembut dan khusyuk ketika menunaikan solat.

7) Jika orang teraniaya dan terpenjara membacanya sebanyak 71x, Allah s.w.t. akan memberikan bantuan kepadanya kerana dia tidak bersalah tetapi dizalimi.

berdoa

Sahabat...

Tidak kira sama ada doa itu dalam keadaan terdesak atau semata-mata menunaikan kewajipan, setiap doa pasti Allah beri perhatian. Allah berfirman yang bermaksud: “Berdoalah kepada-Ku nescaya aku (Allah) akan perkenankan.” 
(Surah Ghafir : 60 )

Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya Tuhanmu yang Maha Suci lagi Maha Tinggi itu pemalu lagi mulia. Dia malu terhadap hamba-hamba-Nya yang mengangkat tangan berdoa, tiba-tiba tidak diberi oleh-Nya akan permintaan itu.” (Riwayat al-Tirmizi no. 3556 dan Abu Daud no. 1448)

Lihat betapa hebatnya sifat Pemurah dan Pengasih Allah, Dia bukan sahaja memerintahkan kita berdoa, malah Dia mengajar apa yang patut kita doakan dan bagaimanakah caranya kita harus berdoa. Tidak cukup sekadar itu, Allah berjanji untuk mempertimbangkan doa-doa itu. Sebuah syair mengungkapkan hakikat ini dengan begitu indah sekali:
“Allah s.w.t. murka jika engkau tidak memohon kepada-Nya.
Sebaliknya manusia murka apabila kau sering minta kepadanya.”

Berdoa itu satu langkah yang produktif. Bahkan menurut pandangan ulama tasawuf, apabila Allah telah ringankan lidah seseorang hamba-Nya untuk berdoa, itu petanda Allah telah memberi lampu hijau untuk memperkenankan doa itu. Kata Imam Ibn Ataillah: “Tatkala Allah membukakan mulut anda dengan bermohon kepada-Nya maka ketahuilah, sesungguhnya Allah berkehendakkan doa anda diperkenankan.”

Yakinlah bahawa apabila Allah mengilhamkan kepada hati kita untuk berdoa, maka sudah tentu Allah akan memperkenankan doa kita itu. Tetapi jika Allah tidak berkehendak memperkenankan sesuatu doa, maka sudah tentu Dia tidak mengilhamkan kepada hati kita ke arah itu.

Oleh sebab itu, janganlah berdoa dalam keadaan terlalu mendesak dan memaksa Allah. Itu bukan sifat seorang hamba yang baik. Untuk mengatasi sikap ini tanamkanlah ke dalam jiwa satu keyakinan bahawa nikmat yang telah Allah berikan adalah lebih banyak dan lebih bernilai daripada apa yang sedang kita minta dalam doa kita itu...
Wallahu a'lam.

Friday, May 4, 2012

mata & air

Menangislah wahai mata,
kerana itu adalah tugasmu,

Menangislah wahai mata,
kerana itulah kamu diciptakan,

Mata,
kau banyak berjasa padaku,
titisan air mata ini sentiasa mengalir deras bila hatiku tersentuh,
menemani aku disaat kesedihan,
kesepian,
dan air mata ini menjadi saksi aku dan Yang Maha Besar,
ketikaku sujud menyembah pada Yang Esa.

Mata,
terima kasih kerana mata ini sentiasa mengajar aku erti sabar,
sabar untuk menahan gegaran hati,
yang hampir mengugat keimananku.

Mata,
aku tahu pasti kau letih untuk menangis,
dan kadangkala hampir kering air matamu untuk mengalir,
maafkan aku mata,
aku bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan memberi keinsafan padaku,
tentang nikmat yang amat berharga ini,
kerana jika tiada mata bagaimana hendak aku melepaskan amarah pada diri ini?

Menangislah wahai mata,
seandainya diri ini masih memerlukanmu,
selagi rasa syahdu terus meratapi,
selagi Allah meminjamkan padaku,
selagi aku masih hidup di muka bumi ini.